• MTS NEGERI KOTA KUPANG
  • "MADRASAH BERPRESTASI ISLAMI"

Antara Nyaman dan Cinta

 “Antara nyaman dan cinta, beta dilema harus memilah hati par siapa. Beta cinta se, tapi nyaman deng dia”. Begitulah sepenggal lirik lagu Ona Hetharua, Penyanyi asal Ambon – Maluku yang diunggah di kanal youtube pada Mei 2020 lalu. Lagu yang bercerita tentang seseorang yang sedang gelisah karena berhadapan dengan sebuah pilihan yang dilematis ini mewakili ungkapan hati sekian banyak orang yang berada dalam situasi, di mana Ia diharuskan untuk memilih antara rasa nyaman atau cinta. Sama halnya dengan peribahasa “Bagai Makan Buah Simalakama”, yang berarti seseorang yang dihadapkan dengan suatu kondisi yang serba salah, yaitu keadaan ketika seseorang harus memilih antara dua hal yang yang sulit untuk ditentukan.

Beberapa dari kita mungkin lebih memilih cinta dari pada rasa nyaman, sementara yang lainnya cenderung memilih rasa nyaman dari pada cinta. Apapun jawaban Anda, saya yakin, itu lahir dari pengetahuan dan pengalaman Anda yang berharga tentang cinta dan kenyamanan. Saya sendiri pun tidak akan menjadi hakim atas jawaban-jawaban Anda tersebut. Siapakah saya? Iya, kan? Jawabannya tentu saya bukan siapa-siapa.

Pertama, tentang rasa nyaman. Biasanya, rasa nyaman timbul karena alasan-alasan tertentu. Saya merasa nyaman dengan Anda, misalnya karena Anda memiliki hobi yang sama dengan saya. Anda tahu film favorit saya. Anda mengajak saya untuk berdiskusi tentangnya atau mengajak saya untuk menonton film favorit saya di bioskop. Anda berusaha memberikan kepada saya apa yang saya sukai. Anda bisa membuat saya tertawa. Anda mengajak saya jalan-jalan ke tempat yang saya ingin kunjungi. Anda memberikan saya banyak hadiah. Anda menjadi teman curhat yang baik. Anda bahkan rela menahan rasa ngantuk dan mau mengangkat telpon saya dini hari hanya untuk mendengarkan keluh kesah saya. Anda selalu ada di saat saya membutuhkan Anda. Sungguh, Anda teman baikku.

Yang ke-dua, tentang cinta. Relasi yang dibangun atas dasar cinta tidak mudah hancur. Meskipun masalah datang silih berganti, dengan kelebihan cinta yang Anda miliki, Anda akan sanggup menolak yang datang kepada Anda untuk menawarkan kenyamanan, “Relasi Cinta” itu tak tergoyahkan. Anda dan dia memilih untuk tetap setia. Alasannya sederhana, karena di dalam cinta-lah, Anda bukan lagi Anda dan Dia bukan lagi Dia, melainkan Anda dan Dia sudah menjadi Kita.

Begitu juga seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) yang diperhadapkan sebuah pilihan yang dilematis “antara nyaman dan cinta”, sungguh sangat berat. Dalam hal ini, berkaitan dengan hubungan jarak jauh (Long Distance Relationship) atau LDR dengan keluarga (Orang Tua, Istri, Suami, Anak-Anak, dan lain sebagainya). Lebih tepatnya, seorang ASN harus memilah antara cinta terhadap pekerjaan/profesi dan rasa nyaman bersama keluarga.

Demi pengabdian kepada Negara, seorang ASN bersumpah akan setia dan taat kepada Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, serta akan menjalankan seluruh peraturan perundang-undangan dengan selurus-lurusnya, demi dharma bakti kepada Bangsa dan Negara. Demi pengabdian kepada Negara pula, seorang ASN bersedia ditempatkan dimana saja, di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Hal ini merupakan wujud “Cinta Tanah Air” yang begitu tinggi dari seorang ASN demi amanah/tanggung jawab yang sudah dipercayakan.

Namun, itu semua memang tidak bisa begitu saja dan serta merta membuat perasaan nyaman dan tenang dalam menjalankan tugas. Ada terbesit perasaan rindu ketika melihat teman-teman sekantor yang sudah berkeluarga yang seluruhnya bisa berkumpul, bercengkrama dengan keluarga yang dicintainya. Bayangan keluarga tetap menjadi hiasan dominan yang terus tergambar di pikiran. Kondisi ini semakin membuat pikiran tidak menentu, terutama sepulang dari kantor, saat tiba dan berada di tempat tinggal (rumah, kos, dll) tidak ada sambutan hangat dan panggilan buah hati yang bisa menghilangkan kepenatan karena rutinitas kerja, layaknya idaman setiap keluarga. Terkadang, tidak terasa tetesan air mata mengalir saat melihat-lihat foto-foto keluarga, istri, terlebih anak-anak, karena memang lumrah adanya manusia biasa, yang punya perasaan kangen dan butuh kehangatan keluarga yang dicintai.         

Mungkin, tulisan ini jauh dari apa yang disebut istilah ilmiah, lebih tepatnya bisa disebut curahan hati yang terkesan cengeng. Namun, hal ini merupakan naluri alamiah seorang manusia biasa yang mungkin saja dialami oleh sebagian rekan yang mengalami kondisi yang sama. Secercah harapan untuk berkumpul dengan keluarga tercinta kembali terlintas, dan asa itu semoga menjadi kenyataan yang terus mendekati, walaupun ketentuan yang ada menggariskan bertolak belakang dengan kenyataan.

Kesimpulannya, pilihlah cinta dari pada rasa nyaman. Pilihlah cinta tanah air dalam menjalankan amanah/tanggung jawab yang diemban, dari pada mengutamakan kepentingan pribadi/golongan di atas kepentingan masyarakat. Karena In syaa Allah, cinta itulah yang nantinya akan mendorong Anda untuk selalu memberikan yang terbaik dari diri Anda kepada keluarga dalam segala hal. Cinta itulah yang akan membuat mereka (keluarga) bangga karena jiwa rela berkorban anda. So, tetap semangat wahai para “ASN Pejuang LDR”. Semoga pengabdian kita semua menjadi amal dan ibadah yang diperhitungkan di akhirat kelak. Aamiin… * (Djunaidi Malaum)

Komentari Tulisan Ini